Feeds:
Pos
Komentar

Adventure

WAJAH BARU MERAPI

New Selo, 9 – 10 April 2011

Haus wajahku diterpa angin kabut gunung, Linu kakiku lama tak injakkan pusara lukisanMu”

Hanya sekedar ajakan biasa dari Mas Ari pada Jumat 8 April, begitu mendadak tapi dikala tekad bersatu berujung pada sebuah peluang masanya ada 3 orang yaitu Anton, Ari Bean, dan Galih. Rencana sederhana kami susun berupa obrolan ringan mengenai persiapan, tujuan, target semuanya tidak tertulis. Yang pasti sabtu sore jam 4 out dari sekre dan sampai Basecamp jam 7 malam, mengenai tujuan yang pasti refreshing dan target cetho puncak to yo.

Hari sabtu jam 4 sore kok ga no wonge ki? Ternyata masih ada evaluasi kegiatan workshop. Okelah kalo gitu ngalah nunggu. Molor molor sampe jam 8 malam, ini dia upacara sederhana sekaligus pamitan plus koprol (asem belum waktunya pemanasan malah pemanasan dulu) biasa kedisiplinan dijunjung tinggi dikarenakan atribut yang tidak dipakai. Berangkat mengendarai dua motor dengan jalur magelang pertigaan blabak ke kanan arah ketep dan sebelum gardu pandang ketep ke kanan. Perjalanan memakan waktu dua setengah jam, tepatnya sampai jam 10.30.

Kondisi Basecamp Selo penuh, banyak mapala dan pendaki gunung lain yang sudah hadir. Aklimatisasi dulu kawan diselingi wejangan kopi hangat dan obrolan ceria sesama mapala, sampai larut banyak yang pada tewas (tidur) kecuali kami. Jam 02.00 dini hari kami bersiap – siap pendakian diawali berdoa dan pemanasan yang dipimpin oleh korlap (Galih), dinginpun menjadi panas berkeringat dari start jalan, hembusan angin begitu lembut menerpa kulit kami. Perjalanan yang santai memberikan kami kesempatan dengan bantuan senter melihat dampak letusan, pohon yang tumbang, cabang yang patah dan kumpulan material letusan yang membentuk gundukan keras seperti bekas adukan semen kami temui. Jam 05.00 sampai di pos 1, merah merona mengelilingi kami dihiasi hamparan permadani putih yang maha luas dan samar – samar puncak Sindoro, Sumbing, Merbabu muncul dan memandang ke arah selatan puncak merapi dengan kepulan asapnya terlihan gagah perkasa. Pak korlap mengkondisikan untuk istirahat, buka tenda, masak, sarapan, ngopi dan foto – foto pastinya. Sembari menikmati lukisan alam, sesaat rombongan pendaki lain hilir mudik di sekitar tenda kami.

Jam 09.00 kami lanjutkan perjalanan, cuaca cerah memberikan kami semangat untuk mencapai target. Pos 2, kendit, watu gajah terlihat bereda sekali, sekeliling amat gersang. Inilah mungkin wajah baru itu, dokumentasi tetap ready setiap moment yang dapat kami manfaatkan, style ala mapala dengan gaya yang berfariasi mewarnai memori camera. Jam 10.20 kami sampai di pasar bubrah, sama seperti sebelumnya wajah merapi berubah drastis, hanya hamparan batuan yang dilihat dari kejauhan berwarna putih. Sudah banyak pendaki yang sudah muncak sebelum kami dan kebetulan ada yang baru turun dari piramid merapi, kami cari info kandisi selama perjalanan hingga kami menjadi yakin untuk melanjutkan sampai target yang kami tentukan (puncak).

Jam 10.30 di pasar bubrah, persiapan ke puncak, seleksi peralatan dan logistik, ormed jalur, berdoa. Jalur yang kami lalui begitu berat walau sudah terdapat marker berupa kain hijau yang di tindih batu, tanjakan curam hampir 45 derajat, kerikil dan pasir yang menghambat kami dalam menapakkan kaki sampai tanganpun dimanfaatkan, belum lagi luncuran batu akibat langkah pijakan kami yang kadang lepas, merangkak perlahan sangat hati – hati. Sampai di pintu gerbang lapangan (puncak dulu) kami climbing sekitar 3 meter, kawah mati tak terlihat lagi, dilanjutkan melipir ke kanan mengikuti tepian tebing sekitar 200 meter dengan pijakan pasir labil, naik lagi sekitar 300 meter dengan pesona lobang atau celah yang mengepulkan belerang di sekitar pijakan kami dan sampailah di bibir kawah (puncak, 12.15). Hampir bertiga kami hanya terduduk, dikelilingi asap belerang dan kabut, sampai – sampai tidak bisa melihat bawah kawah yang terus kepulkan asapnya. Bebatuan yang diselimuti material vulkanik membentuk warna coklat seperti lumpur dan bekas hujan nampak adanya stalagtit kecil hasil material vulkanik yang digerus air. 12.25 kami turun dengan jalur yang sama, turunan menanti di depan, posisi luncuran dengan ekstra hati – hati kami lakukan, luncuran batu semakin sering terjadi hingga kami memilih medan yang lebih banya berpasir halus daripada berbatu sedang.

Sampai di Pasar bubrah jam 13.10, istirahat sejenak. Perjalanan pulang jam 13.45, kabut dan rintikan hujan mulai turun selama perjalanan pulang. Jam 16.00 sampai di gardu pandang New Selo istirahat, minum hangat dan makan. Jam 17.00 ke Basecamp, dilihat teman – teman sangat lelah dan perjalanan pulangpun membutuhkan tenaga juga maka kami memutuskan untuk istirahat di Basecamp sampai jam 20.00. Go to Sekre MDWN. Sampai jam 23.00 disambut teman – teman dengan pertanyaan yang jawabannya membuat kami senang. End

Revolusi Industri

REVOLUSI INDUSTRI (1700 – 1900)[1] DAN PENGARUHNYA BAGI EROPA

Oleh:

Anton Giri Sadewa

Pend. Sejarah, UNY

PENDAHULUAN

Revolusi yang terjadi di Eropa bukanlah suatu serangkaian pergolakan politik dan sosial yang menimpa negara – negara di Eropa yang merupakan suatu usaha bersama untuk membebaskan dari segala bentuk keterbatasan yang menuju pada pembebasan manusia agar dapat menikmati kebahagiaan duniawi.[2]

Apa yang dicapai oleh Barat pada saat ini bukan suatu tanpa perjuangan dan usaha. Dimulai dari Feodalisme, perang Salib, Renaisains, dan lainnya memberikan sumbahsih mengenai tahapan – tahapan pencapaian sehingga pada akhirnya terjadilah revolusi industri di Inggris yang akan memberikan suatu pengaruh yang besar terhadap perkembangan perjalanan negara – negara di Eropa Selanjutnya.

Penemuan wilayah buru, memunculkan suatu perdagangan yang lambat laun membentuk kaum borjuis (orang-orang yang dicirikan oleh kepemilikan modal) sangat kaya yang menguasai perekonomian dan pada akhirnya muncullah sistem kapitalis. Pada waktu sebelumnya sudah terdapat para tuan tanah yang telah mendominasi kekuatan peta ekonomi. Pertentangan kaum borjuis dan tuan tanah menyadarkan beberapa orang untuk memunculkan ide dan gagasan untuk memecahkan permasalahan tuan tanah dan para orang kaya yang berkaitan dengan perekonomian, maka perlu adanya pembaharuan dalam pengolahan sumber – sumber perekonomian yang ada. [3] Dari berbagai fakta diatas apa yang menjadi faktor pendorong revolusi Industri di Inggris? Bagaimana prosesnya? dan dampaknya bagi Inggris dan Eropa?

PEMBAHASAN

FAKTOR PENDORONG TERJADINYA REVOLUSI INDUSTRI DI INGGRIS

Dalam membahas kenapa revolusi industri terjadi di Inggris perlu adanya syarat pemicu timbulya revolusi. Terdapat sejumlah faktor yang mempengaruhi lahirnya revolusi industri di Inggris, yakni:[4]

  1. Faktor geografi Inggris yang sangat menguntungkan di Samudera Atlantik. Pada saat itu pusat kegiatan perekonomian berpindah dari Laut Tengah ke daerah pesisir samudera Atlantik. Hal ini disebabkan oleh timbulnya kerajaan Turki Usmani di bagian timur Laut Tengah.
  2. Faktor modal, Pasokann kekayaan dari Tanah jajahan (India) yang mendatangkan investasi modal. Investasi ini digunakan pula dalam fasilitas umum seperti jalan yang dikenakan pajak jika melaluinya. Jadi faktor modal yang diperoleh dari kemakmuran tanah Inggris dapat digunakan dalam berbagai kepentingan, seperti penyediaan tempat kerja permanen untuk seluruh kegiatan pekerja dengan menyediakan kebutuhan sarana dan prasarana yang menunjung ke arah berkembangnya industri.
  3. Faktor sumber daya manusia, Inggris memiliki ilmuan yang terkenal yang berhasil mendorong banyaknya penemuan dalam bidang fisika dan tekhnologi terapan sepereti yang ditemukan oleh Thomas Newcomen (1663 – 1792), Jemes Watt (1736 – 1819), Jemes Hargreaves (1764 – 1778), Richard Cartwight (1732 – 1792), Elie Whitney (1765 – 1825) dan George Stephenson (1782 – 1840).
  4. Inggris mempunyai potensi sumber daya alam yang menunjang seperti besi, dan batu bara yang jumlahnya sangat melimpah.
  5. Inggris memiliki jajahan yang luas, erkat angkatan lautnya yang kuat. Daerah jajahan inggris merupakan pasar sekaligus sumber guna meningkatkan perekonomian Inggris. India, Australia, beberapa wilayah di Amerika dan Kanada, Selandia Baru dan lainnya.[5]
  6. Revolusi ilmu pengetahuan abad ke 16. Francis Bacon (matodologi induksi untuk penelitian ilmiah), Rene Descartes (Penemu Filsafat Modern dan Bapak Matematika Modern), Galileo Galilei (astronom, filsuf, dan fisikawan Italia), Copernicus (Bapak Astronomi Modern), Isaac Newton (fisikawan, matematikawan, ahli astronomi, filsuf alam, dan teolog).[6]

PROSES INDUSTRIALISASI[7]

Awalnya muncul suatu alat pemintalan kapas secara mekanik (1760 – (1860) masih menggunakan alat ini. Mesin pemintal benang yang bernama Jenny yang diciptakan oleh Jemes Hargreaves dua tahun kemudian ditemukan kerangka air oleh Richart Arkwigh. Samuel Croupton menggabungkan pemintal benang dengan kerangka air yang kemuadian disempurnakan kembali oleh Cartwright. Inilah awal pembentukan suatu peralatan penghasi tekstil yang berada di pabrik yaitu mesin pemintal benang, kerangka air, penggulung benang.

Dengan ditemukannya mesin uap maka dapat digunakan untuk menggerakkan mesin berat sehingga mesin pabrik menjadi berkembang. Hal ini memunculkan penemuan – penemuan baru seperti kereta api, kendaraan bermesin, kapal uap, telegram, navigasi uap dan lainnya.

Sekitar tahun 1860 revolusi industri memasuki fase baru terutama pada pengolahan besi, penyempurnaan dinamo dan penciptaan mesin pembakaran di dalam. Perbedaan tahap ini yaitu; adanya besi sebagai bahan industri pokok, penggantian batu arang menjadi minyak dan listrik sebagai sumber pokok penggerak industri, penggunaan campuran dan metal kimia, perubahan benturk transportasi dan komunikasi.

Perkembangan industrialisasi bermula dari suatu penemuan alat – alat sederhana yang berkembang menjadi alat – alat modern yang memiliki suatu peningkatan.

DAMPAK REVOLUSI INDUSTRI BAGI EROPA[8]

Tidak dapat dipungkiri bahwa efek revolusi industri tidak hanya pada perekonomian tapi juga pada aspek yang lain, seperti:

  1. Masyarakat feodal menjadi tekikis oleh status ekonomi.
  2. Muncul golongan borjuis dan kapitalis.
  3. Golongan menengah yang terdiri dari para pegawai, pedagang kecil yang didupnya tidak tergantung pada pertanian.
  4. bertambahnya kaum buruh pabrik yang berdampak pada pepindahan penduduk desa ke kota. Hal ini menimbulkan permukiman kumuh di perkotaan.
  5. petani semakin terpuruk dikarenakan sektor pertanian semakin merosot.
  6. Pelanggaran terhadap hak asasi manusia, mereka mendapatkan suatu kewenangan untuk mengatur peraturan menurut kepentingan sendiri. Parlemen mengeluarkan Reform Bill (1832) untuk melindungi hak istimewanya dalam mengatur ikatan kerja dengan buruh sehingga tidak ada titik temu antara industrialis dan buruh.
  7. Melebarnya paham kapitalis dan mesin – mesin industri di negara – negara di Eropa.

PENUTUP

Revolusi di inggris memberikan peran andil dalam dinamika perubahan di Eropa dan dunia umumnya dengan melalui tahap yang panjang. Kebanyakan manusia menginginkan perubahan yang baik tetapi tidak demikian dengan revolusi ini tetap terdapat hal yang tidak diinginkan. Proses sejarah memberikan suatu jalan yang berbeda sebagai hasil dari perkembangan manusia dalam memenuhi kebutuhannya, fenomena revolusi Industri di Inggris dapat memberikan pemicu bagi bangsa lainnya sebagai salah satu contoh perubahan cara manusia dalam pemenuhan hidupnya.


[1] Sundoro Hadi, Sejarah Peradaban Barat Abad Modern. Jember: Jember university Press, 2007, hlm 173

[2] Soleh Khudori, Revolusi Industri di Inggris (1760 – 1860). Dapat diakses di  file:///D:/tool/eropa baru/Revolusi-Industri-Inggris 33.htm , Diakses pada tanggal 24 April 2010. hlm. 2

[3] Ibid, hlm. 3

[4] Sundoro Hadi, Op.cit., hlm. 174

[5] Harsoyo, Ideologi koerasi menatap masa depan. Yogyakarta: Pustawa Widyatama. hlm. 24

[6] ………Sejarah Revolusi Industri, Dapat diakses di http___tokoh-ilmuwan-penemu_blogspot_com_2009_09_sejarah-revolusi-industri_html, diakses pada tanggal 24 Maret 2010.

[7] Ibid

[8] Sundoro Hadi, Op.cit., hlm. 189 – 195

MANAJEMEN ORGANISASI

MANAJEMEN ORGANISASI

Manusia adalah mahluk social yang cinderung untuk hidup bermasyarakat serta mengatur dan mengorganisasi kegiatannya dalam mencapai sautu tujuan tetapi karena keterbatasan kemampuan menyebabkan mereka tidak mampu mewujudkan tujuan tanpa adanya kerjasama. Hal tersebut yang mendasari manusia untuk hidup dalam berorganisasi. Manajemen Manajemen adalah proses merencanakan, mengorganisasikan, memimpin dan mengendalikan pekerjaan anggota organisasi dan menggunakan semua sumber daya organisasi untuk mencapai sasaran organisasi yang sudah disepakati bersama. Dalam pelaksanaannya aktifitas Manajemen meliputi: 1. Perencanaan (Planning) yaitu pemilihan sekumpulan kegiatan dan pemutusan selanjutnya apa yang harus dilakukan, kapan, bagaimana, dan oleh siapa. Gagal dalam merencanakan artinya merencanakan kegagalan, sehingga lebih baik bersimbah keringat di saat latihan daripada bersimbah darah di medan perang. 2. Pengorganisasian (Organizing) yaitu proses untuk merancang struktur formal, mengelompokkan dan mengatur serta membagi tugas-tugas atau pekerjaan di antara para anggota organisasi, agar tujuan organisasi dapat dicapai dengan efisien. 3. Pengarahan (Leading/Actuating) yaitu proses memberikan penjelasan atas perencanaan dan pengorganisasian yang telah ditentukan bersama. 4. Pengontrolan (controlling) yaitu pengawasan dapat didefinisikan sebagai proses untuk menjamin bahwa tujuan-tujuan organisasi dan manajemen tercapai. Organisasi Secara umum definisi organisasi adalah kelompok orang yang secara bersama-sama ingin mencapai tujuan. Unsur dasar dalam organisasi yaitu; orang – orang, tujuan dan kerjasama. Komponen Organisasi Komponen penting organisasi meliputi: 1. Tujuan, merupakan sesuatu yang akan di capai dalam rentang waktu tertentu, Tujuan berdasarkan rentang dan cakupanya dapat di bagi dala beberapa karakteristik antara lain tujuan jangka panjang, tujuan jangka menengah dan tujuan jangka pende 2. Struktur Struktur Organisasi sangat penting untuk dapat dipahami oleh semua komponen dalam rangka menciptakan system kerja yang efektif dan efesien. 3. Sistem Terbagi dalam komponen penyusun yang saling berikatan yaitu; Input, Proses, Output dan Feedback Pengembangan Organisasi Pengembangan Organisasi merupakan program yang berusaha meningkatkan efektivitas keorganisasian dengan mengintegrasikan keinginan individu akan pertumbuhan dan perkembangan dengan tujuan keorganisasian. Alasan akan pentingnya pengembangan Organisasi: 1. Perubahan adalah pertanda kehidupan. 2. Perubahan memberikan harapan 3. Pengembangan merupakan tanggapan atas perubahan 4. Pengembangan merupakan usaha untuk menyesuaikan dengan hal baru (perubahan) Kenapa Organiasi perlu di manage? Saya contohkan suatu filosofi pada Angkutan Kota. Di dalam angkot ada kumpulan orang, ada kerja sama, ada tujuan, ada pemimpin (Man, Money, Method, Machine, Material, Market). angkot memiliki pernyataan tujuan (vision statement) karena tujuan akan menentukan trayek yaitu supir lebih sering melihat ke depan (visioner) dibanding melihat spion ke belakang (menyesali masa lalu/bercermin pada pengalaman), supir mengatur gas (semangat, ambisi), rem (ideologi, norma) dan kemudi (tujuan). Kernet dapat disamakan dengan administrasi berupa pengaturan keuangan dan penyelesaian hubungan dengan lingkungan langsung, lingkungan langsung dapat diibaratkan sebagai penumpangnya. Setiap tujuan, semngat, ambisi, ideologi dan norma dapat berkembang sesuai dengan tantangan perubahan dalam lingkungannya. Kembali lagi ke filosofi Angkot, dengan perubahan lingkungan (penumpang/ biaya masuk terminal/naiknya bensin) dapat menjadikan suatu pertimbangan bagi supir dan kernet hal apa saja yang akan dilakukan untuk menyesuaikan tantangan itu, misalkan dengan menaikkan harga, merubah trayek dengan pertimbangan menentukan trayek yang banyak digunakan penumpang dan lain sebagainya. Bagaimana Caranya? 1. DRIVE (Tetapkan Arah) a. Rumuskan Visi dan Misi b. Tetapkan Tujuan dan Prioritas c. Tetapkan Aturan Main 2. STRIVE (Raih Efektivitas) a. Perjelas Peran dan Tanggung jawab • Libatkan semua anggota • Ungkapkan harapan • Identifikasi potensi dan spesifikasi anggota • Bahas tanggung jawab b. Identifikasi Penghalang • Komunikasi tidak bebas • Tidak bersedia berbagi informasi • Pertemuan tidak efektif • Tujuan tidak realistis • Persaingan tidak sehat • Tidak ada kepercayaan 3. THRIVE (Percepat Gerak) • Umpan Balik • Manajemen Konflik • Berkreativitas • Keputusan Efektif 4. ARRIVE (Sampai di Puncak Prestasi) • Pertahankan motivasi • Revitalisasi pertemuan tim • Buat catatan kemajuan • Rayakan keberhasilan TAHAPNYA PACAR 1 Priority; tentukan prioritas kerja 2 Allocation; delegasikan tugas dengan target dan rincian yang jelas 3 Communication; bangun sarana dan pola komunikasi yang efektif 4 Agenda; buat agenda kerja dengan target yang SMART(Specific, Measurable, Achievable, Rewarding, Time-framed) 5 Relationships; jalin dan jaga keharmonisan hubungan antar personal, antar departemen, dan antar lembaga. KIS S 1 Koordinasi; jalin sistem koordinasi yang efektif 2 Integrasi; balut semangat kebersamaan dan persatuan organisasi 3 Simplifikasi; sederhanakan visi dan misi menjadi kerja yang operasional dan realistis. 4 Sinkronisasi; samakan visi, misi, arah dan ritme gerak organisasi. (anton GS)

Sejarawan dan Masa sekarang:

Menggali sebab Akibat Pemberontakan

Oleh:

ANTON GIRI SADEWA      (07406244039)

Identitas Buku

Judul                : Pemahaman Sejarah Indonesia Sebelum dan Sesudah Revolusi

Penulis             : Willian H. Frederick dan Soeri Soeroto

Paperback      : 507 halaman

Penerbit          : Pustaka LPES Indonesia, Cetakan ke 3, Juli 2005

Bahasa             : Indonesia

ISBN                 : 979-3330-30-9

Ukuran            : 23 x 15,5 cm

 

Kebanyakan buku sejarah yang menerangkan hanya sebatas peristiwa tang terjadi memberikan gambaran yang buram terhadap kebenaran hakiki sejarah itu sendiri, sehingga sulit untuk menemukan gagasan atau konsep tentang sejarah dan bentuk dari hasil rekonstruksi masa lampau menurut pandangan dan minat para penulisnya. Dalam bab terakhir dicoba diungkapkan buku – buku referensi, keadaan sumber dan tempat memperolehnya, begitupula karya – karya sejarah sejak zaman kemerdekaan, baik yang bersifat umum maupun yang khusus dilihat dari tema dan periodenya.

Karena tujuannya memeng mengungkapkan contoh – contoh maka di dalamnya tidak terdapat analisa dan generalisasi atau tafsiran sebagaimana lazimnya terdapat di dalam suatu penulisan sejarah. Di dalam buku ini terdapat 5 bab dengan karakteristik menurut kronologi kejadian yang dihubungkan dengan pemahaman sebuah sejarah. Adapun babnya adalah sebagai berikut:

Bab 1 Mengenal, Memikirkan dan Mengarang sejarah

Bab 2 Pandangan dan filsafah Sejarah

Bab 3 Karya sejarah dari Masa Sebelum revolusi

Bab 4 Karya Sejarah dari Masa Sesudah revolusi

Bab 5 Menggali sejarah indonesia: Alat – alat sejarawan dan Sumber – sumber Umum

Bab 4 bagian 12 akan dibahas mengenai Sejarawan dan Masa sekarang: Menggali sebab Akibat Pemberontakan. Peristiwa pemberontakan di Ambon tidak diduga sebelumnya, munculnya RMS yang diproklamirkan secara terang – terangan sehingga mengusik integrasi Indonesia. Untuk mengusut kenapa orang Ambon kita lihat peranannya. Kita bedakan orang Ambon yang berada di Maluku Tengah dengan orang Ambon diluar Maluku Tengah,. Sejak Abad ke 17 wilayah ini telah diperintah oleh Belanda. Wilayah ini tidak mengenal sistem kerajaan sehingga tidak pernah merasakan birokrasi tradisional. Susunan masyarakat yang terpenting adalah para rajapati (penguasa desa atau negeri), anak nagari dari setiap daerah terbagi dalam kelompok – kelompok, masing – masing terdapat patron client.

Orang terpelajar pada umumnya terdapat di kota Ambon, tetapi tidak sedikit pula yang masuk ke sekolah Belanda yang diciptakan untuk umum. Muncul organisasi – organisasi lokal seperti Serekat ambon, Ambonsche Studiofond, moeria (organisasi sosial KNIL). Salah satu faktor yang penting yaitu KNIL, hampir semua keluarga (clan) mempunyai seorang anggotanya dalan KNIL, mereka menganggap KNIL dari Ambn yang paling profesional. Hal ini didasarkan pada Kultus Yongker, suatu mitos keberanian salah satu keturunan Ambon yang sangat dikagumi hingga menjadi suatu dewa yang dimitoskan.

Perang Dunia II dan revolusi Indonesia menghancurkan sendi – sendi kehidupan Hindia Belanda, Jepang menganggap sama orang Ambon dan Belanda sehingga banyak eks KNIL ditangkap dan ditahan. Munculnya NIT memberikan peluang bagi bergesernya status Ambon yang akan dijadikan suatu kesempatan pemisahan kekuasaan. RMS, Sumoakil dan penumpasannya sebagai implikasi perbedaan pandangan pada waktu revolusi sehingga muncullah separatisme.

Usaha – usaha penumpasan RMS maka cita – cita integrasi wilayah itu menjadi kenyataan. Pembangunan di segala bidang dapat mengatasi kekacauan yang terjadi. Dalam usaha ini memang perlu diperhatikan mengenai pengetahuan kita tentang masyarakat dan kebudayaan pemerintah pusat yang melayani berbagai perbedaan masyarakat dan budaya di Indonesia. Masalah RMS di Netherland, sebetulnya bukan masalah pokok Indonesia. Tetapi di sini mungkin perlu diutarakan bahwa pihak belanda dan indonesia menganggap bahwa ini merupakan persoalan sosial bukan persoalan politik.

 

 

SEJARAH KECIL PETITE HISTOIRE INDONESIA JILID 1

BAB 10

JAWA BARAT: SEJARAH CAMPUR SARI TIGA ZAMAN

Oleh:

ANTON GIRI SADEWA    (07406244039)

 

Judul                : Sejarah Kecil Petite Histoire Indonesia Jilid 1

No ISBN            : 9497091415

Penulis             : Rosihan Anwar

Penerbit           : Buku Kompas

Tanggal terbit  : Agustus 2009

Jumlah haaman: 328

Kategori          : Sejarah Indonesia

Teks bahasa     : Indonesia

 

Kisah – kisah kecil yang pernah terjadi di beberapa daerah di Indonesia ternyata menarik untuk kita ketahui. Kisah – kisah kecil yang penuh dengan cerita human interes kadang terlepas dengan sejarah besar bangsa indonesia. Beberaa peristiwa yang terjadi saat ini merupakan pengulangan dari kisah – kisah kecil tersebut.

Dalam buku ini Rosihan Anwar membawa kita untuk melihat kembali sejarah kecil Indonesia, seperti daya tarik kayu cendana, Maluku pergolakan berulang, Aceh, Kudeta Nazi Jerman di pulau Nias, riwayat saisuk Sumatera Barat, Palembang Venetia dari Timur, Bengkulu tempat pembuangan Bung Karno, Banten sahabat Prof. Snouck Hurgronje, Kapal perang Jerman Emden tenggelam di kepulauan Kokos, Sejarah campur sari tiga zaman, Perwira Jerman di Pulau Karimun, model serah senjata jepang, Gusdur ‘High moon’ Megawati the spinx.

Pada bab 10 ini terdapat tema – tema menarik yang saling keterkaitan satu sama lain yang menggambarkan suasana perjuangan di bawah penjajahan di daerah Jawa Barat.

Aksi Politik Mahasiswa di Bandung, tanggal 25 February 1933 menyingkapkan kekhawatiran pejabat Belanda mengenai aksi politik di kalangan mahasiswa Rechts hoogeschool (RHS), sekolah hukum tinggi di Bandung. Perjuangan melalui media massa oleh Wiranatakusuma dan Soetarjo yang berujung pada pengaduan ke pengadilan dikarenakan tulisannya “Indonesia Raja” menyinggung pemerintah Belanda walaupun pada akhirnya kasus ini selesai begitu saja tanpa tindak lanjut ke pengadilan. Amir Sjarifuddin dalam pidatonya pada rapat umum memberikan ikhtisar tentang sejarah perkembangan imperialisme di Indonesia yang mengakibatkan pendapatan masyarakat Indonesia yang tidak wajar. Seorang Joop Van Den Berg yang menemukan pengeluaran dan pendapatan seorang indo, dan telihat sangat memprihatintan bagi pembantu yang bekerja pada orang Belanda dengan imbalan yang tidak sepadan.

Pengarang Eddy du Perron adalah seorang Belanda asli yang menerbitkan sebuah Novel dan merasa bersimpati dengan orang Indonesia. Masih pada kisah Eddy du Perron yang memberikan suatu pandangan keadaan indonesia yang sedang mengalami kekakuan dalam perkembangan Nasionalisme karena para tokoh pejuangnya di buang, termasuk Sutan Sjahrir yang ditemuinya sebagai tokoh yang dihormatinya sebelum dia meninggal.

Pembunuhan Darma Dosen Sekolah Guru adalah seorang Indo yang kawin dengan keponakannya sendiri dan dalam perjalanannya terjadi pembunuhan yang direncanakan oleh istri Darma dan selingkuhannya. Pelacur Fientce de Feniks dibunuh, Jumat 17 Mei 1912 di Betawi yang dibunuh oleh orang Belanda Kaya yang pada akhirnya pelaku itu bunuh diri.

Setelah membaca kisah pembunuhan seorang dosen sekolah dan pelacur Indo kita beralih pada kisah lain mengenai pembunuhan negeri yakni pada zaman Jepang. Pelaku cerita adalah seorang wartawan Belanda yang menikahi seorang wanita indo yaitu catatan Jan Bouwer yang mencatat perjalanannya dalam mempertahankan kehidupannya yang terpenjara dalam rumah karena pada saat itu penangkapan orang – orang asing oleh jepang yang dipindahkan ke camp pengungsian, dia menulis berbagai situasi dalam penyembunyiannya itu. Kalau Jan Bouwer lolos dari tangkapan Jepang tidak demikian dengan wanita Belanda yang diinternir oleh pasukan Jepang. Ceritanya memang biasa saja tetapi akan memberikan gambaran mengenai situasi pada masa itu.

Kisah selanjutnya terjadi di Bogor dengan pelaku seorang wartawan Tjalie Robinson yang tutup usia pada 22 April 1974 di negeri Belanda dan awal tahun 1950-an bekerja di Jakarta pada surat kabar Het Nieuwsgier, sebuah catatannya menjelaskan mengenai pertunjukan bioskop keliling yang dilakukan di udara terbuka atau dikenal dengan layar tancap. Tjalie bertutur tentang layar tancap di Bogor dengan gaya bahasanya yang khas pada masa aksi militer Belanda. Sumedang, 5-12-1947, sebuah kartu pos yang berisi syair mencoba unutk melacak sejarah yang terkandung di dalamnya. Adalah wartawan belanda joop Van den Berg yang mengisahkan posisi Raden Ayu dalam tingkat masyarakat serta pertemuannya dengan Williem. Awal tahun 1960-an Ujeng Suwargana sebagai sorotan utama mengenai perjalanannya sebagai duta A.H Nasution diambil dari berbagai sumber terutama wartawan. Dijelaskan banyak sekali kontroversi keterlibatan Ujeng dengan peristiwa G30S/PKI dan hubungannya dengan CIA.

Menjelang akhir 1991 berhubung dengan peringatan 45 tahun perundingan Linggarjati maka sebuah film Abdul Madjid, SH mengenai perundingan Linggarjati November 1964 yang meminta penulis membuat film reportase dan dokumenter. Film ini memberikan gambaran catatan – catatan pelaku dalam menghadapi perundingan yang a lot dan munculnya sifat – sifat bijak dan kearifan lokal yang memberikan kenangan tersendiri bagi pelaku dalam perundingan itu. Masih berlanjut pada adegan film yang akan menutup cerita perundingan Linggarjati pada penandatanganan hasil perundingan yang disertai dengan agresi militer Belanda 1 dan agresi mliter Belanda 2 memperburuk keadaan yang sebelumnya sempat mendingin, tetapi PM Sjahrir dengan gesit mengutus pa ra pemuda mendirikan kantor perwakilan di luar negeri sebagai upaya diplomatis memenangkan hasil perundinan linggarjati.

Dari berbagai cerita kecil ini terdapat suatu kekayaan pengalaman dan gambaran peristiwa – peristiwa unik yang terjadi menyangkut periodisasi 3 zaman di Jawa Barat. Sebagai suatu persembahan bagi anak bangsa yang sadar akan kekayaan ceritanya.

 

 

GLOBALISASI DAN KEMUDAHAN EKSPLOITASI

(Pemanfaatan SDM dan SDA oleh Kapitalis)

Oleh:

Anton Giri Sadewa

07406244039

 

Pendahuluan

Fenomena sekarang ini yang muncul terutama semakin kecil dan kemudahan jangkauan informasi, komunikasi tukar pengetahuan dan condong mengkerucut menjadi satu dominasi persamaan yang terlihat nyata. Perekonomian yang semakin kompleks dapat diakses dengan mudah dengan teknologi, kebudayaan yang seakan tidak terlihat sekat perbedaan semakin kentara dan fenomena lain yang kita bahkan tidak sadar terbawa arusnya. Globalisasi merangkap sebagai sebuah corong berbagai kepentingan yang tidak terlihat kasat mata yang pada akhirnya dan kita mau atau tidak mau masuk di dalamnya.

Banyak di antara kita yang menerima globalisasi ini sebuah kenyataan yang tidak perlu dipertanyakan. Terlebih lagi peranan perseorangan atau kelompok yang memanfaatkan globalisasi itu sebagai sarana untuk mempermudah jalannya tujuan mereka. Tetapi, pernahkah kita memikirkan lebih dalam siapa yang sesungguhnya diuntungkan dan siapa yang dirugikan dari proses globalisasi? Bagaimana pemanfaatan SDM dan SDA yang maunya sendiri sebagai suatu pemanfaatan kaum kapitalis dengan kondisi arus globalisasi sekarang ini? Refleksi terhadap pertanyaan ini perlu dilakukan mengingat Indonesia sepertinya belum diuntungkan oleh kehadiran globalisasi, kusunya individu yang terbawa arus globalisasi.

 

Keterkaitan Globalisasi dengan Kapitalisme

Menurut asal katanya, kata “globalisasi” diambil dari kata global, yang maknanya ialah universal. Achmad Suparman menyatakan Globalisasi adalah suatu proses menjadikan sesuatu (benda atau perilaku) sebagai ciri dari setiap individu di dunia ini tanpa dibatasi oleh wilayah. Globalisasi belum memiliki definisi yang mapan, kecuali sekedar definisi kerja (working definition), sehingga bergantung dari sisi mana orang melihatnya. Ada yang memandangnya sebagai suatu proses sosial, atau proses sejarah, atau proses alamiah yang akan membawa seluruh bangsa dan negara di dunia makin terikat satu sama lain, mewujudkan satu tatanan kehidupan baru atau kesatuan ko-eksistensi dengan menyingkirkan batas-batas geografis, ekonomi dan budaya masyarakat.[1]

Kapitalisme atau Kapital adalah suatu paham yang meyakini bahwa pemilik modal bisa melakukan usahanya untuk meraih keuntungan sebesar-besarnya. Demi prinsip tersebut, maka pemerintah tidak dapat melakukan intervensi pasar guna keuntungan bersama, tapi intervensi pemerintah dilakukan secara besar-besaran untung kepentingan-kepentingan pribadi.[2]

Globalisasi adalah sebuah pemikiran ideologi Kapitalisme yang komprehensif dan meliputi segenap aspek kehidupan, kendatipun yang menonjol adalah aspek ekonomi. Globalisasi merupakan serangan total peradaban kapitalis yang melanda seluruh pelosok dunia. Kata globalisasi diambil dari kata global, yang maknanya ialah, universal. Jadi globalisasi maksudnya adalah universalisasi ideologi kapitalisme, atau menjadikan kapitalisme sebagai satu-satunya ideologi dan peradaban dunia.[3]

Globalisasi adalah suatu ungkapan yang berarti penyatuan (integrasi) dan penundukan perekonomian lokal ke dalam perekonomian dunia, dengan cara memaksakan penerapan format ekonomi swasta ke dalam struktur perekonomian dunia, serta menjadikan ekspor setiap negara ditujukan untuk pasar dunia, selain untuk pasar regional. Semua ini mengharuskan penghapusan seluruh batasan dan hambatan terhadap arus modal, barang, dan jasa. Jadi pasar dan perekonomian dunia itu tentu bukanlah perekonomian yang tertutup atau terproteksi, melainkan perekonomian terbuka, atau apa yang disebut dengan pasar yang terbuka terhadap segala kekuatan ekonomi. Jadi nyatalah bahwa universalitas, integrasi, mendukung dalam dominasi suatu pergerakan yang diambil oleh Kapitalis sebagai jalan utama untuk menyelenggarakan prinsipnya.

 

Kemudahan Sistem Eksploitasi Manusia

Dalam era globalisasi ekonomi, MNCs (multinasional Corporation) dapat dengan mudah memindahkan pabrik mereka ke wilayah atau negara dimana upah pekerja jauh lebih murah dibandingkan negara asal mereka serta membeli bahan baku produksi dari wilayah yang menjual paling murah, sesuatu yang tentunya sulit dilakukan sebelum terjadinya globalisasi ekonomi. Di satu sisi, hal ini tentunya meningkatkan keuntungan perusahaan-perusahaan itu secara drastis. Di sisi lain, hal ini menimbulkan terjadinya eksploitasi, terutama di negara-negara berkembang karena di negara-negara itu, upah pekerja dan bahan baku produksi tergolong paling murah.

Sebagai contoh, pada 1970-1971, produsen sepatu Nike memiliki pabrik di Korea Selatan dan Taiwan. Namun, di era 1980-an, ketika serikat pekerja yang mulai berkembang pesat di kedua negara tersebut menuntut upah yang lebih baik, Nike memindahkan pabrik mereka ke Indonesia, Cina dan Vietnam untuk mencari pekerja yang lebih murah. Di negara-negara ini, Nike tidaklah benar-benar memiliki pabrik sendiri, tetapi bekerjasama dengan perusahaan sepatu lokal untuk memproduksi sepatu mereka, Cara ini digunakan agar Nike dapat terbebas dari tanggung jawab kesejahteraan terhadap pekerja pabrik dengan alasan mereka hanya sebagai pembeli barang dan bukanlah pemilik pabrik.

Pada 1996, pabrik yang memproduksi sepatu Nike di Indonesia membayar pekerja mereka di bawah upah minimum regional yang ditetapkan pemerintah Indonesia. Upah minimum ini sendiri diperkirakan hanya mampu memenuhi 70 persen kebutuhan para pekerja. Pada 1998, keuntungan Nike mencapai 8,7 miliyar USD. Artinya, apabila Nike menaikkan gaji seluruh pekerja pabriknya hingga dua kali lipat dari gaji semula, maka Nike masih akan mendapat keuntungan yang sangat besar. Tetapi, Nike menolak melakukan itu yang berarti menandakan terjadinya eksploitasi pekerja oleh MNCs seperti Nike ke negara-negara berkembang seperti Indonesia.[4]

 

Bumi Bukan Milik Kapitalis

Dampak sistem ekploitasi diatas hanya sebagian yang terlihat dari segi manusia sebagai tenaga kerja, dalam sistem ekonomi kebutuhan akan bahan baku perlu juga ditekan seminimal mungkin terutama pada pemanfaatan bahan baku yang ketersediannya di alam.  Hal ini terbukti pada tahun 2006 lalu dalam pertemuan IPCC di Paris menegaskan bahwa bencana yang terjadi selama ini merupakan dampak pemanasan Global, dipastikan pula bahwa pemanasan global ini tidak serta merta datang begitu saja tentu ada penyebabnya dan ini merupakan ulah manusia yang berlomba – lomba mengeruk bumi untuk membangun kapital sebasar – besarnya mulai dari perorangan, kelompok kecil, konglomerat sampai pada tataran negara yang pada gilirannya dapat digunakan untuk mengatur miliunya, negara adikuasa, dan para kapitalis lainnya sampai pada ekspansi penguasaan negara lain.[5]

Dalam skala global tidak ada suatu negarapun yang bebas dari dampak perubahan iklim ini. Semua ini tidak lepas dari peran kapitalis berupa perusahaan Multinasional yang terlihat nyata dampaknya sejak revolusi industri tahun 1750. Kehancuran bumi dengan sistem ataupun prinsip para kapitalis yang hanya melihat keuntungan belaka mengakibatkan eksploitasi semaksimal mungkin terhadap bumi yang berimbas pada perusakan lingkungan, secara kasat mata dapat dilihat bahwa hal itu bukan hanya akibat dari upaya sekelompok ataupun perusahaan – perusahaan Multinasional untuk mengeruk keuntungan namun jelas sekali peran pemilik modal sangat vital seperti halnya para kapitalis.

Wajah kapitalisme dengan berbagai variannya cenderung tidak meninggalkan karakteristik utamanya yang bersifat fleksibel, membangun dominasi dan eksploitasi terutama terhadap sumber – sumber daya strategis yang menyangkut hajat hidup orang banyak. Menguatnya fenomena globalisasi akibat kemajuan IPTEK meyakinkan semua pihak bahwa disini terjadi globalisasi kapitalisme dimana peran pemilik modal menentukan wajah dunia di semua aspek.[6]

 

Pihak Yang Paling Dirugikan

Berdasarkan fenomena di atas, dapat diduga ada dua pihak yang paling dirugikan, yaitu (1) negara-negara berkembang, dan (2) lingkungan hidup, termasuk sumber daya alam yang berada di dalamnya. Untuk negara-negara berkembang, selain eksploitasi pekerja, juga muncul brain drain. Brain drain adalah fenomena semakin terkikisnya sumber daya manusia, dalam hal ini tenaga kerja profesional, dari negara-negara berkembang ke luar negeri dalam upaya mencari kehidupan yang lebih layak.

Sebagai contoh, menurut United Nation Development Program (UNDP), pada 2007, terdapat 300.000 tenaga ahli serta profesional dari Afrika yang memilih bekerja serta menetap di luar negeri. Ethiopia merupakan negara yang paling parah kehilangan kaum pekerjanya, yaitu sebesar 75 persen dari jumlah pekerja profesional yang dimiliki pada 1980-1991. Sejak 1990, diperkirakan benua Afrika kehilangan 20.000 pekerja profesionalnya karena memilih bekerja dan menetap di luar negeri. Untuk menutupi kekosongan pekerja profesional itu, Afrika mendatangkan 150.000 tenaga kerja ahli dan profesional yang berasal dari luar negeri dengan beban biaya 4 miliar USD per tahun untuk upah para pekerja tersebut. Realita ini merupakan pukulan telak bagi perkembangan negara-negara tersebut akibat hilangnya sumber daya manusia yang berkualitas serta kerugian ekonomi karena harus mendatangkan pekerja asing. Bahkan di Indonesia sendiri, banyak pekerja ahli dan profesional yang memilih bekerja di luar negeri karena hasil karya mereka kurang mendapat apresiasi di dalam negeri.[7]

Contoh lainnya adalah brain drain yang terjadi di Eropa. Di kawasan ini, terjadi eksodus besar-besaran tenaga profesional dari negara-negara Eropa Timur ke negara-negara Eropa Barat. Eksodus ini merupkan ironi karena seharusnya integrasi Eropa Timur ke dalam Uni Eropa akan semakin memajukan perkembangan di wilayah tersebut, tetapi yang terjadi justru mereka kehilangan tenaga-tenaga profesional yang sangat dibutuhkan untuk memajukan wilayah mereka.

Sebagai pembanding, dalam waktu 2 tahun setelah Latvia bergabung dengan Uni Eropa (2004), terdapat migrasi 60.000 tenaga kerjanya ke Eropa Barat, mulai dari dokter, pengajar, hingga teknisi komputer. Bila tren ini terus berlanjut, maka diperkirakan penduduk Latvia akan berkurang setengahnya pada tahun 2050 dari jumlah penduduk yang tercatat pada 2006. Sedangkan, dalam jangka waktu yang sama di Slovakia, ada 37.000 tenaga kerja profesional bermigrasi ke Inggris. Jumlah ini tidak termasuk migrasi ke negara-negara Eropa Barat lainnya. Sementara pada 2006, Polandia memiliki tingkat pengangguran hingga 16 persen, tetapi negara ini justru kekurangan tenaga kerja profesional karena terjadinya eksodus ke Eropa Barat sehingga mereka harus mendatangkan tenaga kerja dari Korea Utara. Semua fenomena tersebut membuktikan bahwa brain drain yang terjadi di era globalisasi menjadikan negara-negara yang sebelumnya sudah terpuruk menjadi semakin terpuruk.

 

Bumi Yang Sekarat

Pihak lain yang sangat dirugikan dari perkembangan globalisasi tetapi sering diabaikan adalah Bumi, lingkungan hidup tempat tinggal umat manusia dengan berbagai sumber daya alamnya yang sangat penting untuk menopang seluruh sendi kehidupan kita semua. Kerugian lingkungan serta sumber daya alam di dalamnya dapat dilihat dari kemampuan alam untuk menopang perkembangan globalisasi ekonomi yang terjadi saat ini. Menurut David Pimentel, seorang profesor ekologi dari Universitas Cornell, jika mulai 1999 setiap keluarga di seluruh dunia hanya memiliki anak sebanyak 2 orang saja, maka populasi dunia diperkirakan akan mencapai 12 miliyar orang pada. Pertanyaannya, mampukah lingkungan hidup kita menopang populasi sebanyak itu?

Sebagai pembanding, menurut studi yang dilakukan oleh Worldwacth Institute pada 2006, seandainya saja seiring pertumbuhan ekonomi seluruh penduduk Cina dan India memiliki rata-rata pendapatan per kapita sama dengan yang dimiliki oleh Amerika Serikat, maka diperlukan produksi sumber daya dua kali lipat dari seluruh produksi dunia saat ini untuk memenuhi kebutuhan kedua negara itu saja. Pada 2006, konsumsi pangan per kapita rakyat Amerika Serikat tiga kali lebih banyak dari rakyat Cina dan lima kali lebih banyak dari rakyat India, Jumlah karbondioksida per kapita yang dihasilkan rakyat Amerika Serikat enam kali lebih banyak dari Cina dan 20 kali lebih banyak dari India. Pada 2005 saja, Cina menghabiskan 25 persen baja, 32 persen beras, dan 47 persen semen dari total yang diproduksi di seluruh dunia.[8]

Ini menunjukkan bahwa pesatnya pertumbuhan ekonomi global tidak mampu diimbangi dengan kemampuan lingkungan hidup dan sumber daya alam untuk menopangnya. Jika tindakan konkret tidak segera dilakukan, maka sebuah bencana besar akan menimpa kita semua.

 

Penutup

Semua fenomena tersebut membawa kita pada sebuah pertanyaan: apakah globalisasi dan perdagangan yang dilakukan sebagai suatu ideologi kaum kapitalis adalah kawan atau lawan? Jawabannya terpulang pada diri kita masing-masing, apakah kita memiliki kemauan serta kemampuan untuk beradaptasi dengan perubahan ekonomi yang mengarah pada globalisasi ekonomi? Apabila kita tidak mampu beradaptasi, tentunya akan terlihat sebagai musuh. Namun, jika kita mampu beradaptasi, tentunya akan terlihat sebagai kawan.

Perlu diperhatikan, apabila sejak awal kita diberikan suatu pemikiran akan arus globalisasi yang menuntut pada perubahan serta peningkatan akan kebutuhan persaingan di dunia yang semakin tidak jelas sekatnya maka kita akan menganggap bahwa fenomena di atas sebagai motivasi perubahan diri untuk beradaptasi, bukan lagi sebagai budak kapitalis yang memanfaatkan globalisasi sebagai alat mereka. Didukung oleh sumber daya alam yang banyak sebenarnya kita mampu untuk bersaing di arus globalisasi ini.


[1] Globalisasi, Dapat diakses di http://id.wikipedia.org/wiki/Globalisasi, diakses pada tanggal 15 Januari 2011

[2] Kapitalisme, Dapat diakses di http://id.wikipedia.org/wiki/Kapitalisme, diakses pada tanggal 15 Januari 2011

[3] Ahmad al-Khatib, Globalisasi skenario metakhir kapitalise, dapat diakses di http://www.jurnal-ekonomi.org/2004/05/10/globalisasi-skenario-mutakhir-kapitalisme, diakses pada tanggal 15 Januari 2011.

[4] Kadek Anggi Sastra Pramana, Untung Rugi Globalisasi/PDF, Universitas Airlangga, Tanggal pembuatan tidak dicantumkan. hlm. 248.

[5] Ir. Rachmat Witoelar, Bumi Bukan Milik Kapitalis, Jakarta: PT Pustaka Sinar Harapan,2009,hlm.3–4.

[6] Ibid., hlm 5 – 6.

[7] Kadek Anggi Sastra Pramana, Untung Rugi Globalisasi/PDF, Universitas Airlangga, Tanggal pembuatan tidak dicantumkan. hlm. 249.

[8] Ibid., hlm 250.

 

RELATIVISME

RELATIVISME

Disusun Oleh

Anton Giri Sadewa

07406244039

 

PENDAHULUAN

Dalam diri manusia terdapat banyak sekali paham – paham mengenai hubungannya dengan manusia dan lingkungan. Kejadian kejadian yang dianggap manusia wajar dan itu umum dapat memberikan argumen yang berbeda terhadap manusia lainnya. Kadang pula perasaan yang terikan pada pandanan pribadi yang memandang fenomena yang belum tentu sama dengan pandangan pada umumnya.

Pemikiran manusia yang tidak terbatas memunculkan berbagai pemahaman yang beragam. Salah satunya Relativisme, Sehingga kita dapat merumuskan mengenai pengertian relativisme. Bgaimana dalam tata cara beretika dan melakukan hubungan anatar manusia dengan satu relativisme? Dan apa yang terjadi apabila kita memandang bahwa dalam diri manusi terdapat hak individu yang biasa disebut hak asasi manusia dihubungkan dengan pandangan relatif pada hak asasi manusia?

Dengan adanya pertanyaan diatas manusi dapat mengenal diri pada suatu pahan tertentu dan memberikan suatu toleransi terhadap pedangan orang lai yang berbeda menurut sudut pandang yang berbeda pula. Relatifitas dapat memberikan suatu jawaban akan berbagai fenomena perbedaan pandagan manusi yang tidak terlihat wujudnya.

 

PEMBAHASAN

Pengertian Relativisme

Secara umum Relativisme dapat didefinisikan sebagai penolakan terhadap bentuk kebenaran universal tertentu. Dengan definisi ini, mungkin saja terdapat berbagai bentuk relativisme. Relativisme dapat dibahas di berbagai bidang. Kesamaan yang dimiliki oleh semua bentuk atau subbentuk relativisme adalah keyakinan bahwa sesuatu (misalnya, pengetahuan atau moralitas) bersifat relative terhadap prinsip tertentu dan penolakan bahwa prinsip itu mutlak benar.

Perbedaan antara bentuk dan subbentuk ini terkait erat dengan perbedaan objek-objek (antara berbagai bentuk) dan perbedaan prinsip (antara berbagai subbentuk, semisal perbedaan antara relativisme etika individual, yang menjadikan kerangka etika sebagai varian individual dan relativisme etika sosial yang menjadikan kerangka etika sebagai varian sosial.

Relativisme Etika

Ada beragam difinisi relativisme etika yang dikemukakan oleh berbagai penulis. Menurut pengertian yang lazim, relativisme etika adalah pandangan bahwa tidak ada prinsip moral yang benar secara universal; kebenaran semua prinsip moral bersifat relative terhadap budaya atau pilihan individu. Persoalan pada definisi semacam ini adalah bahwa ia tidaklah komprehensif. Ada pelbagai bentuk dan versi relativisme etika dan definisi ini dianggap memadai hanya untuk satu bentuk relativisme etika, yang nanti kita sebut sebagai relativisme “meta-etis”.

Persoalan lain adalah bahwa orang- orang dengan kedudukan yang berbeda sering kali mendefinisikan relativisme secara berbeda. Persoalan ini membuat para tokoh semacam Mark P. Whitaker menyatakan bahwa mendefinisikan relativisme berarti mengambil posisi dalam kontroversi seputar relativisme.

Definisi relativisme etika yang tepat harus mempertimbangkan relativisme etika yang lebih dari sekadar klaim sederhana bahwa manusia mungkin saja memiliki putusan moral yang berbeda dalam berbagai kasus atau klaim bahwa berbagai pandangan moral yang saling bertentangan mungkin saja benar. Sebuah definisi yang tepat juga harus komprehensif dan bebas dari ketergantungan pada posisi tertentu dalam perdebatan relativisme etika. Karena luar biasa sulit (atau mungkin mustahil) untuk menyajikan sebuah difinisi relativisme etika  sebuah difinisi umum yang tidak terlalu pasti dan secara substansial mendefinisikan berbagai bentuk secara terpisah.

Relatifitas Hak – Hak Asasi Manusia

Hak – hak asasi manusia dilihat dari dua sudut, pertama rumusan konkrit sebuah hak asasi selalu sama mungkin kurang lebih sesuai dari apa yang akan dioperasionalisasikannya saja yaitu dengan tuntutan martabat manusia tertentu. Suatu rumusan konkrit tidak perah sempurna melainkan selalu masih dapat dibut lebih tepat, lebih tajam, lebih jelas, kurang ambigu dan sebagainya. Jadi selalu ada kemungkinan untuk lebih memperbaikinya kembali. Tak ada rumusan “suci”. Dan itu berarti pula dari isi suatu rumusan. Contohkeutuhan seseorang sebagai manusia dewasa tidak mungkin dijamin apabila apa yang dimilkinya terus menerus dicampuri orang lain atau pihak lain. Tetapi untuk mecegah hal itu, tidak perlu hak milik pribadi dinyatakan sama sekali tidak boleh dicampuri oleh masyarakat seperti yang dituntut oleh John Locke. Tujuan dasar juga terjamin apabila hak asasi atas milik pribadi dirumuskan secara relatif, artinya bahwa seperlunya dan dengan menjamin keadilan, negara berhak untuk membatasinya.

Kedua, bahwa dan bagaimana suatu tuntutan martabat manusia dianggap perlu dirumuskan sebagai hak asasi yang selalu merujuk pada sistem kekuasaan atu truktursosial budaya tertentu yang mengancam harkat manusiawi kehidupan sebagai dari anggota masyarakat itu. Diluar konteks ituhak – hak asasi tidak akan dimengerti dalam magsud yang sebenarnya, akan dianggap asing, atau bahkan dianggap sebagai gangguan terhadap pola kehidupan sosial yang terasa sebagai cukup memedai. Misalnya tidak masuk akal untuk agar masyarakat suku terasing memberikan kedudukan kepada hak – hak asasi manusia.

Salah satu kesimpulan dari relivitas itu adalah bahwa daftar – daftar hak asasi manusia yang sudah dirumuskan tidak begitu saja dapat diambil oper oleh masyarakat lain. Setiap bangsa harus merumuskan sendiri patokan – patokan dasar kehidupan bersama yang mereka anggap menjamin harkat manusiawi dengan bertolak dari kebutuhan dan cita – cita mereka sendiri.

PENUTUP

Ternyata manusia memiliki pandangan tertentu mengenai sesuatu yang dianggap benar secara universal. Penolakan tersebut didasatkan pada etika individu dan etika sosial yang berbeda satu sama lain sehingga suatu hal yang wajar penolakan itu terjadi. Tidak ada sesuatu yang mutlak benar di dunia ini. Moral dianggap sesuatu yang tidak selalu benar didasarkan pada prinsip dan perbedaan pandangan individu, benturan budaya dan nilai.

Dalam pandangan relatifitas hak asasi manusia terdapat dua bentuk dilihat dari perkembangan individu itu sendiri dan pandangan umum masyarakat ataupun sampai pada struktur pemerintahan negara yang terus berkembang.

 

Referensi:

  1. Franz Magnis-Suseno (1987), Etika Politik “Prinsip – prinsip moral dasar Kenegaraan modern”, Jakarta: Gramedia
    1. Shomali Mohammad A (2001), Relativisme Etika, Jakarta: Serambi